Rabu, 01 Mei 2013

Makalah Metode Pembelajaran Integratif


 



BAB I

PENDAHULUAN

I.1  Latar Belakang Masalah

Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang akan mendidik siswa untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan benar, maka dari itu kita sebagai guru harus mampu mengemas mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan baik supaya anak didik kita lebih tertarik dan menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia, salah satu cara supaya pembelajaran Bahasa Indonesia lebih menyenangkan adalah dengan bantuan alat peraga yang tepat dan juga menggunakan pendekatan yang tepat pula.

Salah satu pendekatan yang bisa dipakai dalam pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah pendekatan terpadu atau integratif. Pendekatan terpadu ini ada dua macam yaitu pendekatan terpadu internal dan pendekatan terpadu eksternal. Pendekatan terpadu internal bidang studi adalah pendekatan yang keterkaitan yang terjadi antar bahan pelajaran bahasa itu sendiri, sedangkan pendekatan terpadu eksternal adalah pendekatan yang keterkaitan antara bidang studi bahasa dengan bidang studi yang lain. Dalam makalah ini penulis akan mencoba mengulas pengaruh penggunaan pendekatan terpadu bagi siswa SD Kelas II.

II.2   Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang tersebut, maka masalahnya akan dirumuskan secara terperinci untuk mempermudah dalam merumuskan tujuan penulisan yang hendak dicapai. Adapun rumusan masalah penulisan adalah sebagai berikut.

A.                Pengertian metode Integratif

B.                 Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran Bahasa.

C.                 Pendekatan-pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa.

D.                Ciri-ciri Pendekatan Integratif

E.                 Hubungan Pendekatan Integratif dengan Pembelajaran Bahasa

 

 

II.3   Tujuan Penulisan

Dalam penulisan makalah ini kami sebagai penulis menggunakan metode daftar pustaka, mencari dari berbagai media, baik dari media elektronik maupun media cetak.

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1.         Apa itu pengertian metode integrative?

2.         Untuk mengetahui bagaimana Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran Bahasa?

3.         Apa saja Pendekatan-pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa?

4.         Apa saja ciri-ciri metode Integratif?

5.         Apa hubungan pendekatan Integratif dengan Pembelajaran Bahasa?

 
BAB II

PEMBAHASAN

II.1   Pengertian Metode Integratif

Pendekatan integratif dapat diartikan sebagai penyatuan berbagai aspek ke dalam satu keutuhan yang padu. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dalam Kurikulum Bahasa Indonesia adalah pendekatan integratif (Imam Syafi’ie, Mam’ur Saadie, Roekhan. 2001: 2.19).

Pendekatan Integratif dapat dimaknakan sebagai pendekatan yang menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Integratif antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya, bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik.

II.2   Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran Bahasa

Dalam proses belajar mengajar, kita mengenal istilah pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering digunakan dengan pengertian yang sama, artinya orang menggunakan istilah metode dengan pengertian yang sama dengan pendekatan, demikian pula dengan istilah teknik dan metode. Sebenarnya, ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda, walaupun dalam penerapannya ketiga-tiganya saling berkaitan. Tentang hal ini, Ramelan (1982) mengutip pendapat Anthony yang mengatakan bahwa pendekatan ini mengacu pada seperangkat asumsi yang saling berkaitan, dan berhubungan dengan sifat bahasa serta pengajaran bahasa. Pendekatan merupakan dasar teoritis untuk suatu metode.

Asumsi-asumsi tersebut diatas menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang berbeda yakni :

1.            Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha membiasakan diri menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Tekanannya pada pembiasaan.

2.            Pendekatan yang didasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan. Tekanan pembelajarannya pada kemampuan berbicara.

3.            Pendekatan yang didasari pendapat bahwa pembelajara bahasa, yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran, tekanan pembelajaran pada aspek kognitif bahasa bukan pada kemampuan menggunakan bahasa.

a.        Metode

Metode pembelajaran bahasa ialah rencana pembelajaran bahasa, yang mencakup pemilihan, penentuan, dan penyusunan secara sistematis bahan yang diajarkan, serta kemungkinan pengadaan remedi dan bagaimana pengembangannya. Pemilihan, penentuan, dan penyusunan bahan ajar secara sistematis, dimaksudkan agar bahan ajar tersebut mudah diserap dan dikuasai oleh siswa. Semua itu didasarkan pada pendekatan yang dianut, dengan kata lain, pendekatan merupakan penentu metode yang digunakan.

Metode, mencakup pemilihan dan penetuan bahan ajar serta kemungkinan pengadaan remedi dan pengembangan bahan ajar tersebut. Dalam hal ini guru menetapkan tujuan yang hendak dicapai. Kemudian ia mulai memilih bahan ajar. Sesudah itu bahan ajar tersebut disusun menurut urutan tingkat kesukarannya. Disamping itu guru juga merencanakan pula cara mengevaluasi, mengadakan remedi serta pengembangan bahan ajar tersebut.

b.            Tekhnik

Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Dalam menetukan teknik pembelajaran ini, guru perlu mempertimbangkan situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi-kondisi lainnya. Untuk metode yang sama, dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, tergantung pada berbagai faktor tersebut.

Dari uraian diatas dapat dikatakan teknik pembelajaran adalah siasat yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh hasil yang optimal.

II.3     Pendekatan-pendekatan Dalam Pembelajaran Bahasa

Pendekatan yang telah lama diterapkan dalam pembelajaran bahasa, anatar lain ialah pendekatan tujuan dan pendekatan struktural. Kemudian menyusul pendekatan yang dipandang lebih sesuai dengan hakekat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan komunitatif dan pendekatan terpadu.

a.      Pendekatan Tujuan

Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan terlebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi proses belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang ditetapkan, untuk mencapai tujuan itu sendiri. Berdasarkan pendekatan tujuan, maka yang penting adalah tercapainya tujuan. Adapun proses pembelajarannya, bagaimana metodenya, bagaimana teknik pembelajarannya tidak merupakan masalah penting.

Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan “cara belajar tuntas”. Berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil, apabila sedikit-dikitnya 85 % dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75 % dari bahan ajar yang diberikan guru. Penentuan keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif. jika sekurang-kurangnya 85 % Dari jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan betul minimal 75 % dari soal yang diberikan oleh guru maka pelajaran dapat dianggap berhasil.

b.      Pendekatan Struktural

Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai seperangkat kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus diutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu pembelajaran bahasa perlu dititik beratkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting, jelas, bahwa aspek kognitif bahasa diutamakan. Disamping kelemahan, pendekatan ini juga memiliki kelebihan. Dengan pendekatan struktural siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.

c.          Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif berorientasi pada proses belajar- mengajar bahasa berdasarkan tugas dan fungsi berkomunikasi. Prinsip dasar pendekatan komunikatif ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi, b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan, dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar ( Siahaan dalam Pateda, 1991:86).

d.         Pendekatan Terpadu

Pendekatan Integratif atau terpadu adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran bahsa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan,menghubungkan,atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah.

Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :

a.       Integratif Internal yaitu keterkaitan yang terjadi antar bahan pelajaran itu sendiri, misalnya pada waktu pelajaran bahasa dengan fokus menulis kita bisa mengaitkan dengan membaca dan mendengarkan juga.

b.      Integratif Eksternal yaitu keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi yang lain, misalnya bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya untuk pelajaran sainsnya kita bisa menghubungkan dengan reboisasi atau bisa juga pencemaran sungai.

Pendekatan pembelajaran terpadu adalah seperangkat asumsi yang berisikan wawasan dan aktifitas berfikir dalam merencanakan pembelajaran dengan memadukan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sebagai area isi kegiatan belajar mengajar. Pendekatan pembelajaran terpadu,menurut Aminuddin (1994), merupakan perencanaan dan proses pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai tema, topik, pemahaman, dan pengalaman belajar secara terpadu. Pembelajaran terpadu itu sebagai wawasan dan bentuk kegiatan berfikir ketika guru merencanakan kegiatan belajar mengajar dengan berlandas tumpu pada prinsip-prinsip:

1.      Humanisme

Manusia secara fitrah memiliki bekal yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pendidikan

a. Guru bukan satu-satunya sumber informasi

b.Siswa disikapi sebagai subjek belajar yang kreatif mampu menemukan pemahaman sendiri.

c. Dalam proses belajar mengajar, guru lebih banyak bertindak sebagai model, teman pendamping, pemotivasi, penyedia bahan pembelajaran, aktor yang juga bertindak sebagai pebelajar.

2.         Progresifisme

Prilaku manusia dilandasi motif dan minat tertentu. Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pendidikan :

a.    Isi pembelajaran harus memiliki kegunaan bagi pebelajar secara aktual.

b.   Dalam kegiatan belajarnya siswa harus menyadari manfaat pengusaan isi pembelajaran itu bagi kehidupannya.

c.    pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan, pengalaman dan pengetahuan pebelajar.

3.         Rekonstruksionisme

Manusia selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan. Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pendidikan :

a.       Layanan pembelajaran selain bersifat klasikal juga bersifat individual

b.      Pebelajar selain ada yang menguasai isi pembelajaran secara cepat juga ada yang menguasai isi secara lambat

c.       perlu disikapi sebagai subjek yang unik, baik itu menyangkut proses merasa, berfikir dan karakteristik individualnya sebagai hasil bentukan lingkungan keluarga, teman bermain, maupun lingkungan kehidupan sosial masyarakatnya.

II.4   Ciri-Ciri Pendekatan Integratif

Ciri-ciri pendekatan integrative dalam (Zuchdi, 1997) itu antara lain:

  1. berpusat pada siswa,
  2. memberikan pengalaman langsung pada anak,
  3. pemisahan antarbidang studi tidak begitu jelas,
  4. menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran,
  5. bersifat luwes, dan
  6. hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

II.5   Hubungan Pendekatan Integratif dengan Pembelajaran Bahasa

Dalam bentuk wacana semua pembelajaran bahasa dalam bentuk struktural itu dipadukan sehingga tampak lebih menarik. Pembelajar Bahasa harus menguasai keempat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Dalam pembelajaran Bahasa, minimal dua keterampilan dari empat keterampilan itu harus dipadukan dalam satu kegiatan berturutan. Berbahasa selalu terpaut dengan tema tertentu, ada “sesuatu” yang dibicarakan dalam berbahasa. Di sekolah “sesuatu” itu bisa tercakup dalam bidang studi Matematika, IPA, IPS, dan sebagainya. Proses pembelajaran terpadu menghendaki antara materi sastra dan Bahasa memiliki kedudukan sejajar. Keduanya saling menunjang dan berhubungan secara simbiosis mutualistis. Yang penting, pengajaran sastra menghendaki situasi pengajaran yang kreatif. Pendekatan delivery system, yang menghendaki sekolah sebagai agen menghafal, sebaiknya diubah menjadi agen mencipta, mencerna, menghayati seluruh persoalan hidup dan berusaha memecahkannya. Itulah sebabnya, diperlukan pengajar yang benar-benar konstruktivistik. Pengajar semacam ini akan mampu memadukan aspek Bahasa dan sastra secara arif. Melihat contoh tersebut dapat kita ketahui bahwa pendekatan integratif itu memiliki hubungan dengan pembelajaran bahasa.


BAB III

PENUTUP

III.1  Kesimpulan

Upaya guru untuk mengaktifkan proses pembelajaran dilakukan dengan melengkapi alat peraga dan menyiapkan teks bacaan, ini sesuai dengan peran guru sebagai fasilitator dan dinamisator.Dalam penyampaian materi, pembelajaran dipadukan baik secara intra bidang studi seperti aspek membaca, menyimak, berbicara, dan menulis dan sekaligus antar bidang studi seperti dengan materi IPA, IPS, PPKn, dan Kesenian dengan cukup luwes sehingga tidak tampak batas antara bidang studi satu dengan yang lain. Dengan bahasa verbal yang diwarnai dialek Betawi, komunikasi antara guru dengan murid menjadi lancar dan materi diri guru cepat dipahami murid. Jadi selama proses pembelajaran guru menyesuaikan dengan lingkungan hidup anak agar hasilnya sesuai dengan peristiwa dan keadaan yang dihadapi anak sehari-hari. Kemudian pada saat menjelaskan materi pelajaran guru menggunakan pertanyaan dan pernyataan dalam bahasa verbal dengan kalimat yang belum lengkap dan respons belajar murid menjadi aktif dan hidup. Jadi dalam aktivitas itu terjadi perubahan tingkah laku karena belajar meskipun dalam tingkat yang sederhana.

III.2  Saran

Hasil penelitian ini dapat membuktikan bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat relevan dengan kebutuhan perkembangan dan sangat bermakna bagi anak. Oleh karena itu alangkah baiknya apabila para pakar khususnya para pakar pendidikan ikut serta aktif dalam memasyarakatkan pembelajaran terpadu ini secara langsung ke sekolah-sekolah. Dari pihak guru, perlu sekali menyusun buku teks/ bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu karena guru lebih mengetahui kebutuhan anak sesuai dengan lingkungan anak maupun lingkungan sekolah itu sendiri dengan bekerjasama dengan kepala sekolah dan orang tua dalam pengadaannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 KUMPULAN PUISI, CERPEN, DAN MAKALAH. Design by WPThemes Expert
Blogger Templates by Buy My Themes.